Pengertian dan Perkembangan Fintech di Indonesia

Jenis, Kriteria, dan Contohnya

Pengertian Fintech – Financial technology atau dalam bahasa Indonesia disebut Teknologi Finansial (Tekfin) adalah inovasi bidang jasa keuangan yang bertujuan memudahkan metode layanan keuangan tradisional menjadi modern.

Di Indonesia, Fintech muncul dan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Ratusan bahkan ribuan layanan Teknologi Finansial muncul di era digital ini.

Pertumbuhan penggunaan smartphone dan internet disinyalir menjadi pendorong utama perusahaan Teknologi Finansial hadir di Indonesia.

Jenis layanan teknologi finansial sendiri sangat beragam, ada yang membuka layanan sistem pembayaran, manajemen risiko dan investasi, hingga pinjam meminjam online.

Apa sih definisi Fintech dan apa saja jenisnya?

Yuk simak lebih lanjut tentang pengertian fintech dan jenis-jenisnya di bawah ini.

Apa Pengertian Fintech?

Menurut Bank Indonesia, pengertian Fintech adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran.

Lebih mudahnya, pengertian teknologi finansial bisa kita sebut sebagai inovasi bidang jasa keuangan untuk menghasilan produk dan layanan yang berdampak pada stabilitas moneter.

Selain meningkatnya pengguna internet dan smarphone, kemunculan teknologi finansial juga didorong oleh beberapa hal berikut.

Pertama, perkembangan ecommerce dan online shop di Indonesia yang semakin pesat secara tidak langsung membutuhkan sistem pembayaran cepat dan aman.

Kebutuhan sistem pembayaran yang aman dan cepat dilirik oleh pelaku Teknologi Finansial yang kemudian menawarkan layanan pembayaran non tunai.

Kedua, mobilitas masyarakat yang semakin tinggi juga menuntut pemenuhan kebutuhan jasa keuangan yang lebih cepat dan efektif. Kebutuhan jasa keuangan ini meliputi sistem pembayaran, deposito, pinjaman, kredit, dan investasi.

Ketiga, banyaknya masyarakat unbankable (belum tersentuh layanan perbankan) turut serta menjadi pendorong pertumbuhan Fintech di Indonesia.

Bagaimana tidak, dari seluruh populasi, 60% masyarakat Indonesia belum bankable. Itu artinya potensi Teknologi Finansial menggarap pasar tersebut masih sangat besar.

Ketiga faktor di atas diyakini menjadi faktor utama yang mendorong perusahaan Teknologi Finansial di Indonesia semakin banyak dan berkembang.

Sebelum lebih jauh mengenal jenis Fintech di Indonesia, ada baiknya terlebih dahulu kita pahami kriteria apa saja yang membuat jasa keuangan dapat disebut sebagai Teknologi Finansial.

Berikut 5 (lima) kriteria Fintech menurut Bank Indonesia.

  • Bersifat inovatif
  • dapat berdampak pada produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis
  • finansial yang telah eksis;
  • dapat memberikan manfaat bagi masyarakat;
  • dapat digunakan secara luas; dan
  • kriteria lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Jenis Fintech di Indonesia dan Contohnya

Selain mendefinisikan pengertian Fintech sebagai teknologi dalam sistem keuangan, Bank Indonesia juga mengklasifikasikan Teknologi Finansial menjadi empat kategori.

Berikut empat jenis Fintech menurut Bank Indonesia.

#1 Sistem Pembayaran (Fintech Payment)

fintech sistem pembayaran paymentFintech Payment Gateway adalah teknologi finansial yang diterapkan dalam sistem pembayaran online.

Transaksi non tunai seperti pembelian, investasi, penarikan, transfer, dan pinjaman online tidak akan tercapai tanpa adanya sistem pembayaran.

Inilah sebabnya kenapa sistem pembayaran kerap disebut sebagai pintu gerbang untuk inklusi keuangan yang saat ini gencar dicanangkan oleh pemerintah Indonesia.

Fintech Sistem Pembayaran menawarkan transaksi keuangan yang lebih cepat dan efektif dengan mengandalkan teknologi informasi.

Contoh Fintech sistem pembayaran di Indonesia diantaranya: Pay by QR; Duithape; iPaymu; Otto Pay; Midtrans; Ayopo; Walepay; Saldomu; dsb.

#2 Pendukung Pasar (Aggregator)

pendukung pasar aggregatorFintech Pendukung Pasar atau Aggregator adalah perusahaan teknologi finansial yang berperan mengumpulkan, mengelola dan menyajikan data kepada konsumen dan bertujuan membatu konsumen mengambil keputusan dalam memilih (membeli) produk keuangan.

Kriteria teknologi finansial pendukung pasar adalah mempunyai sistem pembanding produk dari sejumlah penyelenggara layanan jasa keuangan.

Fitur pembanding memberikan kemudahan bagi konsumen untuk menilai sekaligus membandingkan harga, fitur, dan manfaat produk keuangan yang hendak ia beli.

Contoh teknologi finansial Pendukung Pasar: Halomoney; Disitu; Lead Generation; Danaxtra; Cermati; Kreditgogo; Easylife; Sikatabis; CekAja; Kreditpedia; dan Cash Cash Pro.

#3 Manajemen Investasi dan Risiko (Fintech Risk and Investment Management)

teknologi finansial investasi manajemen risikoFintech yang bergerak di bidang manajemen investasi dan risiko adalah perusahaan teknologi finansial yang memanfaatkan teknologi informasi dalam memberikan layanan perencanaan keuangan.

Fintech risk and investment management juga mencakup platform e-trading, dan e-insurace. Contoh Tekfin manajemen investasi dan risiko: Rajapremi; Bareksa; Jojonomic; dan sebagainya.

Sebagai lembaga negara yang bertugas mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, Bank Indonesia telah mengeluarkan peraturan tentang penyelenggara pinjam meminjam uang online.

Peraturan tersebut termuat dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 19/12/2017 tentang Penyelenggara Teknologi Finansial.

Salah satu isi dalam peraturan tersebut ialah mewajibkan setiap penyelenggara Teknologi Finansial untuk mendaftarkan usahanya di Bank Indonesia. Kecuali penyelenggara Fintech yang berada di bawah kewenangan otoritas lain.

#4 Pinjaman, Pembiayaan dan Penyedia Modal (Fintech Lending)

pengertian fintech p2p lendingP2P Lending adalah fintech yang menjalanan sistem pinjam meminjam dengan memanfaatkan teknologi informasi. Lebih lanjut, Bank Indonesia mengelompokkan penyelenggara Fintech Lending sebagai jasa pinjaman, pembiayaan, dan penyedia modal.

Berbeda dengan jenis teknologi finansial sistem pembayaran, P2P Lending berada di bawah otorias Jasa Keuangan (OJK). Hingga ulasan ini diterbitkan, setidaknya telah ada 127 perusahaan P2P Lending terdaftar dan berizin OJK.

Contoh P2P Lending: Modalku; Amartha; Koinworks; Investree; Dompet Kilat; Cairin; Kredivo; Rupiah Cepat; UangTeman; KreditPintar; Cash Wagon; Finmas; dsb.

Pertumbuhan Pinjam Meminjam Online di Indonesia

Fintech Lending mulai bermunculan pada 2015 dan meningkat tanpa terkendali pada tahun 2016. Hal ini mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan peraturan POJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang penyelenggara pinjam meminjam uang dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Pada saat bersamaan, OJK mengultimatum penyelenggara pinjaman online untuk mendaftarkan diri sebagai P2P Lending dan menyatakan illegal bagi yang tidak terdaftar.

Langkah tegas OJK dalam menanggapi perkembangan Fintech di Indonesia tidak serta merta dikeluarkan. Alasan dikeluarkannya peraturan OJK serta ultimatum bagi pelaku Tekfin tidak lain untuk memberikan kepastian hukum bagi penyelenggara sekaligus sebagai kontrol atas kehadiran teknologi finansial di Indonesia.

Disisi lain, konsumen Fintech pinjaman online khususnya banyak yang merasa tertipu dan diberatkan saat melakukan perjanjian pinjam meminjam. Dengan kata lain, POJK dikeluarkan juga bertujuan memberikan perlindungan terhadap konsumen.

Berbicara mengenai pinjaman online, pada tahun 2018 banyak sekali aduan dari konsumen pada LSM yang merasa dirinya terjebak peraturan pinjam meminjam ilegal. Tak khayal, banyak dari praktisi menyebut Fintech illegal sebagai rentenir online yang menawarkan pinjaman dengan bunga tinggi.

Wajar saja sebutan itu muncul, lha wong bunga pinjaman yang ditawarkan pinjol ilegal ada yang mencapai 1% per hari atau 30% per bulan setara dengan 360% per tahun.
perkembangan fintech p2p lending teknologi finansialMeski semakin banyak fintech P2P lending terdaftar dan berizin, ternyata angkanya masih lebih kecil dibandingkan fintech ilegal non OJK yang menawarkan pinjaman online.

Hingga bulan maret 2019 Komenkominfo telah memblokir lebih dari 200 aplikasi fintech illegal. Langkah ini diambil guna mengantisipasi kegiatan Tekfin illegal semakin meresahkan masyarakat.

Simpulan

Bank Indonesia mendefinisikan teknologi finansial sebagai inovasi bidang jasa keuangan untuk menghasilan produk dan layanan yang berdampak pada stabilitas moneter.

Pengertian Fintech adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter

Kriteria teknologi finansial adalah bersifat inovatif; berdampak pada produk keuangan yang telah ada; memberikan manfaat; dan dapat digunakan secara luas.

Teknologi Finansial menjadi babak baru jasa keuangan di Indonesia. Layanan secara online memberikan kemudahan dan kecepatan konsumen mengakses layanan keuangan.

Di sisi lain, tidak sedikit perbankan kelas nasional berupaya menerapkan inovasi teknologi untuk meningkatkan daya saing. Digital Banking menjadi babak baru teknologi perbankan di Indonesia yang diyakini bakal tumbuh pesat pada 2020.

Demikian artikel tentang pengertian fintech dan jenisnya. Semoga dapat memberikan gambaran bagi pembaca.

Anda mungkin juga suka